Thursday, April 29, 2010

"Siapa bilang rokok haram!!"





Rokok adalah barang sial yang banyak menjangkiti kebanyakan kaum
muslimin, apalagi orang-orang kafir. Barang ini betul-betul mencekoki
otak para pecandunya. Ketika dinasihati bahwa rokok itu haram! Mereka
akan menyatakan, "Siapa bilang rokok haram!!"

Menjawab pernyataan
ini, kami tegaskan bahwa rokok telah diharamkan oleh para ulama besar
kita berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.Keharaman ini umum mencakup
laki-laki, maupun wanita, orang besar atau anak kecil!!! Haramnya rokok
telah diketahui secara aksiomatik oleh semua orang sampai semua dokter,
perusahaan rokok, pemerintah, bahkan semua orang yang berakal sehat ikut
mengharamkannya. Adapun para pecandu rokok yang ditunggangi dan
dibutakan oleh hawa nafsunya, maka mereka ini tak perlu ditoleh
ucapannya dalam menghalalkan rokok. Tapi tolehlah fatwa-fatwa dan
pernyataan ulama dan orang-orang yang berakal sehat.

Buletin
Mungil At-Tauhid kali ini akan menyodorkan beberapa fatwa ilmiah kepada
pembaca budiman agar menjadi ibroh (pelajaran); fatwa ini berisi
pernyataan haramnya rokok. Para ulama yang kami akan nukilkan fatwanya
adalah para ulama terpercaya, tidak terseret hawa nafsu, dan tidak segan
menyatakan kebenaran, walaupun banyak yang tersinggung.

Pembaca
yang budiman, para ulama kita di Timur Tengah telah lama menyatakan
haramnya rokok, jauh sebelum para dokter "mengharamkannya".

Sebagian
penanya pernah melayangkan pertanyaan kepada ulama besar kita di Timur
Tengah yang tergabung dalam "Al-Lajnah Ad-Da’imah" (Lembaga Fatwa).


* Soal Pertama: Hukum Shoalat di Belakang Perokok

Suatu
fenomena yang sering kita jumpai di lapangan, adanya sebagian imam yang
biasa memimpin kaum muslimin dalam mendirikan sholat. Padahal ia adalah
seorang yang tercandu rokok. Hal ini pernah ditanyakan oleh sebagian
kaum muslimin kepada para ulama tentang sikap kita.

Seorang
penanya berkata, "Bolehkah sholat di belakang seorang imam yang suka
merokok. Perlu diketahui bahwa imam ini bukan imam tetap, bahkan ia
hanya memimpin sholat jama’ah, karena Cuma ia yang pintar membaca
Al-Qur’an di antara jama’ah yang ada di sekitar masjid?"

Para
ulama tersebut menjawab, "Merokok adalah haram, karena telah terbukti
bahwa membahayakan kesehatan, dan termasuk sesuatu yang khobits (buruk
lagi menjijikkan), serta bentuk pemborosan. Allah sungguh telah
menyifati Nabi-Nya –Shollallahu alaihi wa sallam-,

"…dan
menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka
segala yang buruk…". (QS. Al-A’raaf: 157)

Adapun hukum sholat di
belakang; jika karena seorang tidak sholat di belakangnya lalu
menimbulkan luputnya sholat jumat atau sholat jama’ah atau muncul
masalah (antara jama’ah), maka wajib sholat di belakangnya, demi
mendahulukan mudhorot yang lebih ringan atas mudhorot yang lebih besar.
Jika ada sebagian orang yang tidak sholat di belakangnya , sedang ia
tidak khawatir luputnya sholat jumat atau jama’ah atau tidak muncul
mudhorot (masalah dan perseteruan), tapi mengakibatkan tercegah dan
berhentinya ia merokok, maka wajib untuk tidak sholat di belakangnya
sebagai kecaman baginya dan dorongan baginya dalam meninggalkan sesuatu
yang diharamkan baginya (yakni, merokok). Demikian itu termasuk bagi
mengingkari kemungkaran. Jika kita meninggalkan sholat di belakang,
tidak menimbulkan mudhorot, tidak luput dari sholat jumat dan jama’ah,
serta tidak bergeming dengan hal itu, maka sikap paling utama, memilih
sholat di belakang orang yang tidak serupa dengannya dalam hal kefasikan
dan maksiat. Demikian itu lebih sempurna bagi sholatnya, dan lebih
menjaga agamanya. Wabillahit taufiq, wa shollallahu ala Nabiyyina wa
alihi wa shohbihi wa sallam". [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah lil
Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (9/408-409)]

* Soal Kedua:
Hukum Penjual Rokok

Sebagian kaum muslimin yang memiliki profesi
dagang, biasa menjual rokok, karena banyaknya keuntungan yang bisa
diraup dari hasil penjualan, apalagi jika ada diskon dari perusahaan
rokok.

Sekarang ada baiknya kita mendengarkan seorang penanya
berkata, "Apa hukum Islam tentang orang menjual rokok yang dijual karena
adanya keringanan (diskon) dari arah perusahaan rokok?"

Para
ulama’ Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab, "Merokok adalah haram; menanam
tembakau adalah haram; berdagang rokok adalah haram, karena pada rokok
terdapat bahaya besar. Sungguh telah diriwayatkan dalam sebuah hadits,

لاَ
ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

"Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan
orang lain". [HR. Ibnu Majah (2341)]

Rokok juga termasuk
khoba’its (sesuatu yang busuk, jelek lagi menjijikkan). Sunnguh Allah
-Ta’ala- telah berfirman tentang sifat Nabi –Shollallahu alaihi wa
sallam-,

"…dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…". (QS. Al-A’raaf: 157)

Allah
–Subhanahu- berfirman,

"Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang
dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang
baik-baik". Al-Ayat (QS. Al-Maa’idah: 4) [Lihat Fatawa Al-Lajnah
Ad-Da'imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (15/85-86)]

*
Soal Ketiga: Hukum Menjual Rokok karena Perintah Orang Tua

Terkadang
ada sebagian orang telah mengenal haramnya merokok dan menjual rokok.
Namun ia bingung ketika ia diperintahkan oleh orang tuanya untuk menjual
barang haram itu. Dia bingung, apakah ia mentaati Allah dan Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- ataukah ia mentaati orang tuanya?!

Seorang
penanya pernah bertanya tentang menjual rokok karena adanya perintah
dari orang tua. Apakah hal itu adalah udzur baginya?

Para ulama
dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab, "Merokok adalah haram, jual-beli
rokok adalah haram, walaupun hal itu terjadi atas perintah dari orang
tua atau selainnya, karena adanya hadits dari Nabi -Shallallahu alaihi
wa sallam- bahwa beliau bersabda,

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي
مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Sama sekali tak ada ketaatan
kepada seorang makhluk dalam bermaksiat kepada Yang Maha Pencipta -Azza
wa Jalla-". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1041)]

Beliau juga
bersabda,

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

"Ketaatan
itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf". (HR. Al-Bukhoriy & Muslim)
[Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta'
(15/113)]

* Soal Keempat: Hukum Menanam Tembakau

Diantara sebab utama
banyaknya produksi, karena adanya ta’awun (kerja sama) antara pedagang
dengan petani tembakau. Para petani itu terkadang merasa bahwa ia tidak
terkena dosa jika ia menanam tembakau. Sebab ia beralasan bahwa bukan
mereka yang membuat rokok, tapi para pemilik perusahaan rokok.

Benarkah
para petani tidak terkena dosa; dalam artian bahwa pekerjaannya tidak
haram??! Kini ada baiknya kita simak seorang penanya pernah berkata,
"Bagaimana hukum Islam tentang tentang menanam tembakau dan harta yang
dikumpulkan oleh para petani tembakau dari hasil penjualan tembakau
tersebut?"

Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab, "Tidak
boleh menanam tembakau, menjual, dan menggunakannya, karena rokok haram
dari beberapa sisi; karena beberapa madhorot (bahaya)nya yang besar
dari sisi kesehatan, karena keburukannya, tidak ada faedahnya. Wajib
bagi seorang muslim untuk meninggalkannya, menjauhinya, tidak menanamnya
dan tidak pula memperdagangkannya, karena jika Allah mengharamkan
sesuatu, maka Dia mengharamkan harganya, Wallahu A’lam". [Lihat Fatawa
Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (15/120)]


* Soal Kelima: Wajib Bertaubat dari Rokok

Ada diantara kita
yang menyangka bahwa merokok bukan dosa sehingga ia menyangka bahwa
dirinya tak perlu bertaubat dari perbuatannya tersebut. Tapi demikiankah
halnya. Biar anda tahu tingkat kekeliruan sangkaan batil itu, dengar
Seorang penanya berkata, "Bagaimana hukum syari’at tentang penjual rokok
dengan berbagai macam jenisnya? Saya adalah seorang perokok; saat aku
mendengarkan tukang adzan, maka aku masuk masjid. Apakah wajib bagiku
mengulangi wudhu’ ataukah berkumur-kumur cukup bagiku? Aku sebenarnya
tahu bahwa rokok menyebabkan berbagai macam penyakit".

Para ulama
besar dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh Syaikh Abdul bin
Baaz memberikan jawaban, "Haram menjual rokok, karena keburukannya, dan
bahayanya yang banyak. Sedang si perokok dianggap fasiq. Tidak wajib
mengulangi wudhu’ karena merokok. Tapi disyari’atkan baginya
menghilangkan bau yang tak sedap dari mulutnya dengan sesuatu yang bisa
menghilangkannya; di samping ia wajib segera bertaubat kepada Allah dari
rokok. Wabillahit taufiq wa shollallahu ala Nabiyyina wa alihi wa
shohbihi wa sallam". [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts
Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (15/114)]

Inilah beberapa buah petikan
fatwa ilmiah dari para ulama besar kita di zaman ini. Mereka menjelaskan
haramnya merokok, menjual rokok, menanam tembakau, dan segala hal yang
mendukung perbuatan maksiat ini, yakni merokok. Sedang Allah -Ta’ala-
melarang kita bekerjasama dan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan
dalam firman-Nya,

"Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah". (QS. Al-Maa’idah:
2)

Faedah : Sebagian orang terkadang berceloteh bahwa rokok tidak
haram sebab tidak ada kata "rokok" dan larangannya dalam Al-Qur’an
sehingga mereka menyangka bahwa merokok tidak diharamkan. Padahal
sebenarnya banyak dalil-dalil dalam Al-’Qur’an yang mengandung
kaedah-kaedah yang memastikan haramnya rokok. Tapi kedangkalan ilmu
orang-orang yang berusaha menghalalkan rokok, menyebabkan mereka tidak
dapat menemukan dalil-dalil tersebut. Hal ini mengingatkan kami dengan
sebuah kisah dari Masruq bin Al-Ajda’ saat ia berkata, " Ada seorang
wanita yang pernah datang kepada Ibnu Mas’ud seraya berkata, "Aku telah
dikabari bahwa Anda melarang wanita dari menyambung rambut (memakai
rambut palsu)? Ibnu Mas’ud menjawab, "Benar". Wanita itu bertanya,
"Apakah hal itu Anda dapatkan dalam Kitabullah ataukah Anda pernah
mendengarnya dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Ibnu Mas’ud
berkata, "Aku telah mendapatkannya dalam Kitabullah dan dari Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam-. Wanita itu berkata, "Demi Allah,
sungguh aku telah membolak-balik diantara dua lembar (cover) mushaf,
tapi aku tak menemukan di dalamnya sesuatu yang anda nyatakan". Ibnu
Mas’ud berkata, "Apakah engkau menemukan (s ebuah ayat) di dalam mushaf
(yang berbunyi):

"Apa saja yang didatangkan oleh Rasul kepadamu,
maka terimalah,. dan apa saja yang dilarangnya bagimu, maka
tinggalkanlah". (QS. Al-Hasyr: 7)

Wanita itu menjawab, "Ya". [HR.
Ahmad (3749). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Marom (93)]

Memakai
rambut palsu tak ada dalil yang mengandung lafazh larangannya dalam
Kitabullah, tapi dalil-dalil yang melarang hal tersebut secara tersirat
terdapat dalam Kitabullah, sebab menyambung rambut alias menggunakan
rambut palsu termasuk bentuk penipuan dan kedustaan. Sedang larangan
berdusta dan menipu banyak di dalam Al-Qur’an. Demikian pula rokok,
memang tak ada kata dan lafazh "rokok" dalam Al-Qur’an. Tapi larangan
tersebut sebenarnya ada secara tersirat, sebab rokok termasuk perbuatan
tabdzir (menghambur harta), membahayakan diri, mengganggu orang lain,
menzholimi diri dan orang lain, suatu sebab besar orang mengidap
penyakit, bahkan penyebab kematian!! Bukankah di dalam Al-Qur’an
terdapat larangan tabdzir, membahayakan diri, mengganggu orang lain,
menzholimi diri dan orang lain, membunuh diri sendiri?! Jawabnya, "Jelas
ada!!". Jadi, nyatalah keharaman rokok berdasarkan Al-Qur’an dan
As-Sunnah.

http://almakassari.com/artikel-islam/fiqh/siapa-bilang-rokok-haram.html

wallohu ta'ala a'lam

*diopas dari message grup BELAJAR ISLAM;

Akibat foto akhwat di profile




Terkadang bila melayari weblog-weblog teman, menjelajah ke dalam dunia maya bagi manusia yang memayakan diri mereka, saya merasa heran melihat beberapa weblog muslimah, yang bertudung, yang menutup aurat, tidak segan-segan pula untuk menampilkan gambar masing-masing.

Tiadalah terlalu salah untuk menampilkan gambar Anda, ya muslimah sekalian, namun, sayangnya, Anda lupa bahwa gambar yang Anda posting itu adalah gambar sebesar layar 17 inci! Setiap butir jerawat dan bulu halus di muka anda terpampang rapi!

MUSLIMAH & GAMBAR: ADA APA dengannya?

Tidaklah tujuan saya mengaibkan kalian. Saya adalah teman kamu. Sahabat kamu. Yang enggan melihat wajah-wajah Anda itu ditampilkan sewenang-wenang ke orang. Biarpun wajah bukan aurat menurut sejumlah mazhab, namun tatkala fitnah mengundang, tidakkah ia lebih layak ditutup dari pandangan umum? Muslimahku, Dunia internet semakin berkembang maju. Satu hari, satu weblog, mungkin jutaan orang yang melihatnya setiap hari.

Di kalangan mereka ada yang bagus, yang menundukkan pandangan selaras firman Allah dalam Surah An-Nur "Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki Yang beriman supaya mereka menahan pandangannya (dari memandang Yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah amat mendalam pengetahuannya tentang apa yang mereka kerjakan. "

Namun, kita harus akui, bahwa di antara jutaan orang itu, ada yang hatinya sakit, ada yang jiwanya perih menanggung kesakitan akibat terlihat wajah-wajah kamu biarpun kamu bertudungtertutup. Muslimahku, Kalau kita lihat dunia gambar bukan main majunya. Dahulu, cuma kamera yang perlu dicuci gambarnya. Kini, telepon juga menjadi kamera. Kamera pula lebih dahsyat, lebih instant,segera majunya segera pula kerusakan yang dibawanya penyakit hati.

Alangkah malangnya, kalau wajah-wajah yang terpamer itu, mengundang gejolak rasa di jiwa insan bernama lelaki, yang beriman akan beristighfar dan memujuk hati, manakala yang sakit jiwanya, akan mulai mengganggu Anda. Mulai memburu Anda dengan SMS, telepon, atau mungkin mendekati anda, dengan tujuan memiliki anda ....

Hanya karena kesalahan yang mungkin Anda tidak terniat, wajah Anda terpampang besar di internet! Gambar adalah bayangan realiti. Namun mungkin juga ia fantasi. Kadangkala tertipu juga lelaki pada fantasi Photoshop, Fireworks dan seribu satu pengedit gambar lagi. Kalau itu memang tujuan Anda, Anda tanggung sendirilah. Tapi kalau niat Anda cuma berbagi, dengan tanpa sadar mengajak fitnah bertandang, maka peringatan saya, hati-hatilah!

Penyelesaiannya ....

Andalah saja yang mampu menyelesaikannya. Bukan orang lain. Diri Andalah yang harus menjaganya. Apa tujuan Anda bertudung dan menutup aurat? Bukankah kehendak syariat dan ingin menutup pandangan orang kepadamu? Maka, pertanyaan saya, menundukkan pandangan bukan kehendak syariatkah? Menampilkan wajah anda besar-besar menutup pandangan orang terhadap andakah? Karena weblog-weblog dan web foto itu milik anda, seharusnyalah anda kecilkan wajah-wajah Anda dengan mengecilkan ukuran gambar itu.

Banyak cara bisa dilakukan menggunakan perangkat lunak pengedit gambar. Belajarlah dari yang tahu. Hindarkanlah aksi-aksi dan posting-posting yang hanya menambah kerusakan jiwa masyarakat. Jika niat anda hanya ingin berbagi dengan teman muslimah anda, lakukanlah secara tertutup. Hindari posting yang dapat dilihat oleh segala macam jenis orang. Kalau lebih mudah, Anda kirim saja email bergambar pada teman muslimah anda itu.

Ingatlah, wajah anda, anugerah Allah.

Anugerah Allah itu hanya layak dilihat berkali-kali oleh yang layak saja ...
Wallahu ta'ala A'lam ..

Wanita solehah, Itulah sebaik-baik hiasan ...
Selamat Bermujahadah
terjemahan dari www.iluvislam.com

*dicopas dari message grup Dakwah Salaf

Akhir Perjalanan sang Perantau


Orang asing bukanlah orang yang merantau ke negeri syam atau yaman
Tapi orang asing (yg hakiki) adalah, orang yg merantau ke kuburnya bersama kain kafan

Sungguh si perantau punya hak yang harus dipenuhi
Oleh tuan rumah yang daerahnya sedang dilalui
Janganlah kau hardik orang asing ketika sedang dalam perantauan
Karena masa telah menghardiknya dengan kehinaan dan banyak cobaan

Perantauanku jauh… padahal bekalku tidak mencukupi
Kekuatanku semakin rapuh… sedang mati terus meminta diri
Aku tentu punya banyak sisa dosa, yang aku tak mengetahuinya
Dosa saat sendiri, maupun saat bersama, tapi Alloh pasti mengetahuinya

Betapa sayangnya Alloh padaku… karena telah menangguhkan hukuman-Nya
Bahkan Dia tetap menutupi dosaku… meski aku terus melakukannya

Hari-hariku terus berjalan
Tanpa penyesalan, tangisan, ketakutan, ataupun kesedihan
Akulah orang yang biasa menutup pintu
Untuk giat dalam maksiat, padahal Mata Alloh selalu mengawasiku

Salah sudah tercatat, dalam kelalaian yang telah lewat
Dan sekarang, tinggal penyesalan di hati yang terus menyayat-nyayat
Biarkanlah ku ratapi dan ku ajak diriku
untuk muhasabah dan prihatin dalam sisa masa hidupku

Wahai orang yang selalu menghinaku, tinggalkan hinaanmu!
karena jika kau tahu keadaanku, tentu kau takkan melakukan itu
Biarkanlah ku usap linangan air mata, yang tak mau berhenti ini
Maka adakah tetesan air mata ini, dapat menyelamatkan diri?!

Dan seakan-akan aku sekarang
tergeletak tak berdaya diatas ranjang
di hadapan seluruh sanak keluarga
yang membolak-balikkan tubuhku dengan tangan mereka

Lalu berkumpullah di sekelilingku, orang yang meratapiku
menangisiku, memanggil namaku, dan menyesali keadaanku
Mereka telah mendatangkan tabib untuk mengobatiku
Tapi aku yakin, saat ini ia takkan mampu menyembuhkanku

Selanjutnya nafasku semakin tak karuan
Ajal mulai merenggutku, dari setiap urat nadi, dengan tanpa keramahan dan kehalusan
Kemudian ruhku keluar dari jasadku yang meronta
Hingga ludahku saat itu menjadi pahit rasa

Mereka pun menutup mataku
Lalu pergi membeli kafan setelah putus asa atas kesembuhanku

Orang yang dulunya paling ku kasihi
Segera mencari pemandi mayat yang mau menghampiri
Dia mengatakan: Wahai kaumku, kami ingin pemandi mayat yang lihai
merdeka, ahli syair, cerdas, mengerti, dan pandai

Akhirnya datanglah seorang dari mereka menghampiriku
ia melepas pakaianku, menelanjangiku, dan menyendirikanku
Dengan terlentang di gerabah, ia membiarkanku
sedang pancuran air yang akan membersihkan ada di atasku

Ia pun mengucurkan air dari atasku, membilasku dengan tiga bilasan
Dan setelah itu, ia meminta orang-orang agar mendatangkan kain kafan
Orang-orang itu memakaikan padaku pakaian yang tanpa saku
Dan jadilah bekalku hanya parfum kematian, ketika mereka memarfumiku

Mereka kini telah mengeluarkanku dari dunia, duhai malangnya aku
Sebagai seorang perantau tanpa bekal yang dapat mengantarkanku

Mulailah 4 lelaki mengangkat jasadku di atas pundak
Dan di belakangku terlihat para pelayat yang mengarak
Mereka lalu meletakkanku di mihrob depan
Lalu mundur ke belakang imam untuk sholat, dan mengucapkan kata perpisahan

Mereka menyolatiku, dengan sholat yang tanpa ada ruku’ dan sujudnya
Dengan iringan doa semoga Alloh mencurahkan padaku rahmat-Nya
(Sampai di kuburan), mereka menurunkanku ke liang lahat dengan perlahan
Dan mulailah salah satu dari mereka menguburkan

Dia membuka kain yang menutupi wajahku untuk melihatku
Hingga mengucur dari kedua matanya, air yang mampu menenggelamkanku

Ia kemudian berdiri dengan penuh hormat…
Dan dengan tekad yang bulat…
ia menata bata di atasku…
lalu beranjak meninggalkanku…

Ia mengatakan: “Uruklah dia dengan tanah kuburan
Dan raihlah pahala kebaikan dari Ar-Rohman, yang memiliki banyak pemberian!

Di liang kubur yang gelap itu, tak ada bapak yang penyayang
Tak ada ibu, atau pun saudara yang dapat membuatmu senang

(Setelah itu) datanglah sosok yang membuatku gemetar, ketika mata ini menatapnya
Karena tampang yang sangat menakutkan orang yang melihatnya

Itulah malaikat Munkar dan Nakir… Apa yang akan ku katakan kepada mereka?!
Di saat mereka benar-benar telah membuatku sangat takut dan kaget tiada tara

Mereka mulai mendudukkanku, dan mengintrogasiku
Sungguh ya Tuhan, tiada seorang pun selain Engkau yang dapat menyelamatkanku
Maka berikanlah maaf-Mu padaku, wahai Harapanku
Sungguh aku sekarang terjerat dan tergadai oleh dosa-dosaku

Adapun keluargaku… setelah pulang, mereka membagi-bagi hartaku
Di lain sisi, dosa-dosaku menjadi semakin terasa berat di pundakku

Sedang istriku… ia mencari suami lain yang menjadi pengganti sepeninggalku
Lalu menyerahkan kekuasaan harta dan rumah padanya (yang dulunya adalah milikku)

Adapun anakku… mereka berubah menjadi budaknya yang harus melayaninya
Sedang hartaku… sekarang semuanya menjadi halal dan barang gratis untuk mereka

Oleh karena itu, janganlah engkau terkecoh dengan dunia dan perhiasannya!
Lihatlah apa yang diperbuatnya kepada tempat tinggal dan keluarganya

Lihatlah orang yang berhasil mengumpulkan dunia seisinya
Apakah ia akan pergi dari dunia dengan selain hanuth (parfum kematian) dan kafannya?!

Bersikaplah qona’ah dan rela terhadap dunia!
walau kau hanya memiliki badan yang sehat (dan hidup sederhana)

Wahai penanam kebaikan… pasti kau nanti akan memanen buahnya
Wahai penanam keburukan… pasti kau akan dimintai tanggung jawabnya

Wahai jiwa ini, berhentilah menjalani maksiatmu
Dan mulailah beramal yang baik, semoga Alloh merahmatimu

Wahai jiwa ini, segeralah bertaubat dan lakukanlah kebaikan
Semoga engkau raih balasan kebaikan, saat melewati kematian

Semoga sholawat tercurahkan kepada Nabi dan Penghulu pilihan
Selama kilat masih menerangi negeri Syam dan dataran Yaman

Segala puji bagi Alloh, yang ketika pagi dan sore selalu memberi kita kebaikan
Juga maaf, ke-ihsan-an, dan banyak lagi pemberian


=========================================

Alih bahasa oleh: Addariny, di Madinah, 21 /11/1430 H

Untaian kata diatas adalah terjamahan syair milik Zainal Abidin -rohimahulloh-





Zainal Abidin, adalah nama julukan, sedang nama aslinya Ali.
Beliau adalah anaknya Husein, cucunya Sahabat Ali bin Abi Tholib. Kalau digabungkan jadinya: Ali bin Husein bin Ali bin Abi Tholib r.a.
Beliau hidup pada tahun 38-94 H, atau 658-712 M. Lahir dan wafatnya di Kota Madinah.
Beliau diagungkan oleh Ahlussunnah karena termasuk Ahlul Bait dan seorang yang alim, berbudi, dan wira’i.
Beliau juga diagungkan oleh Kelompok Syiah 12 Imam, mereka menganggapnya sebagai Imam keempat dari 12 Imam tersebut.

Tuesday, March 30, 2010

Abu Muhammad Herman: TEMPUH JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN..! WASPADAI JALAN MENUJU KEBINASAAN..! (Nasehat Syaikh bin Baz rahimahullah)

Perhatikanlah -wahai saudaraku- bimbingan ini! Takutlah engkau akan ringannya timbangan amalanmu! Takutlah engkau akan diberikannya catatan amalan engkau dari arah kiri, karena sesungguhnya itu semua adalah musibah yang besar, maka bersemangatlah engkau untuk menjalani sebab-sebab (amalan) yang bisa mengantarkan kepada kebahagiaan dan keberhasilan, yang bisa memberatkan timbangan amalanmu, dan diberikannya catatan amalanmu dari arah kanan, sehingga engkau menjadi orang yang sukses dan berhasil.

Kehidupan dunia ini adalah tempat untuk mengkoreksi diri, maka koreksilah diri engkau, lihatlah senantiasa amalan-amalan engkau siang dan malam sampai engkau meninggal, jika seandainya engkau adalah orang yang terus istiqamah, maka panjatkanlah puji kepada Allah dan bersyukurlah kepada-Nya, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu, mohonlah taufiq dan tsabat kepada Rabb engkau. Adapun jika engkau telah mengurangi dan menghilangkan sebagian amalan ketaatan engkau, maka koreksilah diri engkau, bertaubatlah kepada Allah dan istiqamahlah di atasnya, kembalilah kepada amalan-amalan kebajikan yang dulu engkau menyepelekannya, beristiqamahlah untuk menjalankan perintah-perintah Allah, jauhilah larangan-larangan-Nya dengan bersumber dari niatan yang jujur, keikhlasan kepada Allah, dan dengan mengharap keutamaan yang ada di sisi Allah, serta sikap yang jujur.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 119)


Maka kejujuran itu adalah suatu keharusan.


فَلَوْ صَدَقُوا اللهَ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ.

“Jikalau mereka jujur (imannya) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)


Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman di akhir surat Al-Ma’idah:


هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ.

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur kejujuran mereka, bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Al-Ma’idah: 119)


Inilah keadaan orang-orang yang jujur, orang-orang yang jujur kepada Allah dalam menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh-Nya, jujur dalam kesungguhannya untuk berbuat kebajikan dan bersegeranya dalam mengerjakan kebajikan tersebut, jujur dalam beramar ma’ruf nahi munkar, saling menasehati dalam kebenaran dan menjalankan nasihat Lillah (dengan cara menunaikan hak-hak Allah ‘azza wajalla, pent) dan menjalankan nasihat bagi hamba-hamba Allah (dengan cara menunjukkan kepada mereka jalan-jalan kebaikan, pent).

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh untuk berjihad melawan hawa nafsunya, dia akan mendapatkan kesudahan yang baik, akhir yang terpuji, serta keberuntungan di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang telah menyia-nyiakan dan tidak mempedulikannya, maka dia akan menyesal di kemudian hari.

Maka wajib bagi engkau untuk selalu mengingat dan mengkoreksi diri setiap malam dan siang: Apa saja yang telah engkau perbuat!? Apa saja kekurangan engkau!? Sehingga engkau mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibanmu.


Berhati-hatilah dari teman bergaul yang jelek yang bisa menjauhkan engkau dari kebaikan dan membantu engkau untuk berbuat kejelekan. Wajib bagi engkau untuk bergaul dengan orang-orang baik yang jika engkau ingat, mereka akan membantumu, dan jika engkau lupa mereka akan mengingatkanmu dengan kebaikan dan bersungguh-sungguh di dalamnya bersamamu, mereka akan menabahkan hati engkau, membantu, dan memberi semangat kepada engkau untuk selalu berbuat baik.


Wajib bagi engkau untuk berteman dengan orang-orang yang baik, karena seseorang itu dinilai dari agama teman duduknya dan teman karibnya, maka bersemangatlah untuk berteman dengan orang-orang baik yang akan membantu engkau dalam kebaikan dan mengingatkan engkau jika lupa, serta akan memberikan semangat jika engkau malas.

Wajib bagi engkau untuk berteman dengan orang-orang baik, berhati-hatilah dari bergaul dengan orang-orang jelek yang akan menjauhkan engkau dari kebaikan dan menyeret engkau kepada kejelekan. Berhati-hatilah dari berteman dengan mereka.

Seorang mukmin itu sesuai dengan keadaannya, jika dia memberikan nasehat lillah (untuk menunaikan hak-hak Allah) dan li’ibadihi (menunjukkan jalan-jalan kebaikan kepada hamba-hamba Allah), serta berteman dengan orang-orang yang baik, maka dia akan bahagia dengan kebahagiaan yang sangat, dan jika dia menyepelekannya dan bahkan membuang itu semua, maka dia menyesal dengan penyesalan yang sangat. Dan engkau -wahai hamba Allah-, berakhlaklah dengan akhlak mukminin dan senantiasalah engkau untuk berakhlak demikian.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:


وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

“Dan adalah orang-orang yang beriman baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan sebagian mereka adalah pelindung bagi sebagian yang lain, mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan mendapatkan rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)


Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى ، قيل : يا رسول الله ! من يأبى !؟ قال : من أطاعني دخل الجنة ، ومن عصاني فقد أبى.

“Seluruh ummatku akan masuk al-jannah kecuali orang-orang yang enggan. Maka dikatakan kepada beliau: Wahai Rasulullah siapa orang-orang yang enggan itu? Beliau bersabda: Barangsiapa yang taat kepadaku, maka dia akan masuk al-jannah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh dia telah enggan.”


Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan masuk al-jannah dan sukses meraih kebahagiaan. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah enggan (untuk masuk al-jannah) dan menyebabkan kemurkaan Allah dan adzab-Nya.

Maka yang wajib adalah berhati-hati dan bersungguh-sungguh berjihad melawan hawa nafsunya. Allah ta’ala berfirman:


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Kami, maka sungguh-sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang berbuat baik.” (Al-’Ankabut: 69).


Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ.

“Dan benar-benar Kami akan menguji kalian sampai Kami tahu siapa yang benar-benar berjihad dan sabar di antara kalian dan akan Kami kabarkan keadaan kalian.” (Muhammad: 31).


Maka sudah seharusnya seseorang itu untuk selalu bersungguh-sungguh dan bersabar. Allah ta’ala berfirman:


وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ.

“Barangsiapa bersungguh-sungguh maka sesungguhya dia telah bersungguh-sungguh untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sesuatupun dari alam semesta ini.” (Al-’Ankabut: 6).


Bersungguh-sungguhlah untuk berjihad melawan hawa nafsu engkau sendiri, semoga engkau mendapatkan keberuntungan. Posisi engkau dalam keadaan terancam bahaya karena dunia ini adalah negeri (tempat) yang membahayakan, negeri penuh dengan tipuan dan fitnah.


وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ.

“Dan tidaklah dunia itu kecuali hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ.

“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah ujian bagimu.” (At-Taghabun: 15).


Sesungguhnya engkau berada di negeri (tempat) yang menipu, penuh dengan fitnah (ujian), syahwat, negeri yang mengajak manusia untuk mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ‘azza wajalla, maka wajib bagi engkau untuk berhati-hati selama engkau masih hidup di dunia ini, bersungguh-sungguhlah untuk berjihad melawan hawa nafsu engkau, bersabarlah dalam menjalankan ketaatan kepada Rabb engkau, jauhilah segala bentuk maksiat kepada-Nya, tetaplah bersama dengan orang-orang yang baik dan jauhilah teman bergaul yang jelek. Inilah jalan menuju kebahagiaan, jalan menuju keberhasilan, jalan menuju kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


من يرد الله به خيرًا يفقهه في الدين.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan bagi seseorang, maka Allah akan memberikan kepahaman dalam agama kepadanya.”


Maka wajib bagi engkau untuk mempelajari ilmu syar’i serta berupaya untuk memahami dan berilmu tentang agama ini.

Muhadharah Asy-Syaikh dengan judul “Asbabu Ats-Tsabat Amamal Fitan”

Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu ‘Umair Al-Atsary dari: http://sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=857
Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=461#more-461

SEHAT ALA RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam

Islam merupakan agama yang sempurna. Kesempurnaannya meliputi urusan dunia dan akhirat, yang abstrak maupun kongkrit, termasuk juga masalah jasmani dan rohani. Kesempuraan Islam itu telah diproklamirkan langsung oleh Allah subhanahu wata’ala Sang penguasa alam raya ini melalui utusan-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" (Qs. al-Maidah: 3)

Islam tidak mengharapkan umatnya lemah, apalagi sakit-sakitan. Oleh karena itu, pola hidup sehat dan membimbing umat untuk hidup sehat agar menjadi umat yang kuat diajarkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Mukmin yang kuat itu lebih baik, dan lebih dicintai oleh Allah dibanding mukmin yang lemah". (HR. Imam Ahmad).

Banyak ayat al-Quran yang membicara-kan tentang pentingnya kesehatan dan harus mengutamakan kesehatan. Begitu pula hadits-hadits Rasulullah yang mulia, banyak menjelaskan tentang pentingnya kesehatan dalam kehidupan seorang mukmin.

Di antara ayat al-Quran yang menjelaskan pentingnya mengutamakan kesehatan adalah firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, "…Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air besar (kakus) atau menyentuh perempuan, lantas kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih (suci)".(QS. al-Maidah: 6). Di antara masalah yang dijelaskan dalam ayat ini adalah hukum orang sakit yang tidak boleh tersentuh air. Karena bisa jadi air akan membahayakan jiwanya atau akan menghambat proses penyembuhan penyakitnya, atau bahkan memperparah sakit yang sedang ia derita.

Dalam keadaan seperti tersebut di atas, Allah subhanahu wata’ala memberikan solusi untuk hamba-Nya yang akan menunaikan kewajibannya, tanpa harus meninggalkannya. Yaitu dengan disyari'atkannya tayammum bagi orang-o-rang yang sedang mengalami kasus seperti di atas. Karena Islam melarang hal-hal yang bisa mendatangkan bahaya bagi diri sendiri, apalagi bagi orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidak diperkenankan membahayakan pribadi dan orang lain". (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh syaikh al-Albani)

Dalam ayat lain, artinya, "…Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain". (QS. al-Baqarah : 184)

Ayat ini menjelaskan tentang beberapa permasalahan seputar puasa. Di dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala membolehkan bagi orang yang sakit dan dalam perjalanan untuk tidak berpuasa, dan memberikan kelonggaran baginya dengan mengganti puasa yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.

Maha suci Allah yang telah mensyari'atkan agama Islam ini dengan penuh hikmah, bijaksana, dan sangat sempurna. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu orang sakit diharamkan baginya untuk berpuasa. Hal ini menunjukkan betapa Islam sangat memper-hatikan dan mengutamakan kesehatan. Sebagai contoh: Seseorang yang sedang menderita penyakit tertentu, kemudian seorang dokter ahli yang menanganinya mengatakan, “Jika ia (pasien) berpuasa dalam kondisi saat ini, maka penyakitnya akan tambah parah, bahkan dapat menyebabkan kematian”. Maka dengan perkataan dokter ahli itu, orang yang sakit tadi dilarang berpuasa (haram).

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kesehatan adalah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim dan Ibnu Hibban, "Tidak ada bejana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia melainkan perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengonsumsi beberapa kerat makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa, maka ia bisa mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiga lagi dengan minuman, dan sepertiga sisanya untuk nafas". Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan petunjuk kepada kita agar jangan over dosis makanan, sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan, dan akan menyebabkan seseorang mudah terkena penyakit.. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "…Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS. al-A'raf : 31)

Para ulama dan para sejarawan yang meneliti sejarah kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendapati pola hidup sehat yang sangat ideal bagi kehidupan manusia dalam mengisi aktivitas kehidupannya sehari-hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengonsumsi yang haram dan yang kotor. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengonsumsi yang halal dan thayyib (yang halal dan yang baik). Bahkan kalau kita mau meneliti hadits-hadits yang membicarakan tentang perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kita akan mendapati, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang sangat peduli dalam menjaga kesehatan tubuh.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu..." (QS. al-Ahzab: 21).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di berkata di dalam tafsirnya, "Suri teladan itu ada dua macam; yang pertama suri teladan yang baik, yang ke dua suri teladan yang buruk. Suri tauladan yang baik itu ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Barangsiapa yang meneladaninya, maka ia akan memperoleh kemuliaan dari Allah. Ia akan berjalan di atas jalan yang lurus dan benar. Karena para Rasul itu berjalan di atas jalan yang lurus dan benar. Adapun mengikuti jalan yang menyelisihi jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ini adalah contoh meneladani suri teladan yang buruk. Hal semacam ini pernah dilakukan oleh orang-orang kafir ketika diajak oleh para rasul untuk mengikuti jalan mereka. Orang-orang kafir itu berkata,"Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka" (QS. az-Zukhruf : 22).

Cukuplah bagi kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dengan meniru dan meneladani Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mudah-mudahan hal itu menjadi bukti atas cinta kita kepada beliau, sekaligus kesetiaan kita dalam mencintai Allah dan rasulNya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "…Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Ali 'Imron: 31) Karena hanya dengan meneladani beliaulah kebahagiaan yang hakiki dapat diraih.

Sungguh seandainya sesuatu yang kita tiru dan ikuti itu menyelisihi tuntunan Rasullulah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kita tetap bersikukuh untuk mengikutinya, berarti kita telah melakukan perbuatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir dahulu. Orang-orang kafir itu bersikukuh mengikuti jalan nenek moyang mereka yang jelas-jelas menyelisihi jalan para Rasul. Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.

Kenyataan yang ada di masyarakat sungguh sangat disayangkan. Kebanyakan dari kita telah salah dalam melangkah. Terjebak dalam mengikuti jejak. Tertipu dalam meniru, dan masa bodoh dalam mengambil contoh. Karena kurangnya kita dalam menggali dan mengamalkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita banyak meninggalkan Kalamullah, mengesampingkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kurang mau tahu terhadap perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita lalai dengan gemerlap kehidupan dunia. Akibatnya umat Islam menjadi umat yang lemah, menjadi umat tertinggal, umat yang tertindas, umat yang mudah diombang-ambingkan oleh orang-orang yang selalu membenci Islam dan umat Islam.

Melalui selembar kertas ini, penulis mengajak kaum muslimin untuk kembali mempelajari ajaran Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diamalkan. Mempelajari sejarah hidupnya untuk dijadikan patokan dalam mengarungi kehidupan didunia ini. Agar kita tidak menyimpang dari jalan yang benar dan menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan sejati dalam mengisi berbagai sisi kehidupan. Seperti: Cara makan dan menjaga kesehatan; Cara berpakaian; Cara berumah tangga dan bertetangga; Cara bermasyarakat dan bernegara dan lain sebagainya. Mari kita berusaha untuk sehat dan bahagia dengan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini tidak lain, kecuali karena memang pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagi orang yang beriman dan mengharap rahmat dari Allah subhanahu wata’ala.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan membuktikannya dengan banyak meniru dan mencontoh dari kehidupannya, meninggalkan dan membenci hal-hal yang menyelisihi jalan dan petunjuk-nya. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, shahabat, dan para pengikutnya. Alhamdulillahirabbil 'alamiin. (Ibnu Thayyib Maksudi al-Bantani).

Sumber: (Taisir al-Kariim ar-Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, at-Tibbun Nabawi, Ibnul Qoyyim al-Jauzi, Tafsir al-Quran al-Karim surat al-Baqoroh, Syaikh al-Utsaimin).