Tuesday, March 30, 2010

Abu Muhammad Herman: TEMPUH JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN..! WASPADAI JALAN MENUJU KEBINASAAN..! (Nasehat Syaikh bin Baz rahimahullah)

Perhatikanlah -wahai saudaraku- bimbingan ini! Takutlah engkau akan ringannya timbangan amalanmu! Takutlah engkau akan diberikannya catatan amalan engkau dari arah kiri, karena sesungguhnya itu semua adalah musibah yang besar, maka bersemangatlah engkau untuk menjalani sebab-sebab (amalan) yang bisa mengantarkan kepada kebahagiaan dan keberhasilan, yang bisa memberatkan timbangan amalanmu, dan diberikannya catatan amalanmu dari arah kanan, sehingga engkau menjadi orang yang sukses dan berhasil.

Kehidupan dunia ini adalah tempat untuk mengkoreksi diri, maka koreksilah diri engkau, lihatlah senantiasa amalan-amalan engkau siang dan malam sampai engkau meninggal, jika seandainya engkau adalah orang yang terus istiqamah, maka panjatkanlah puji kepada Allah dan bersyukurlah kepada-Nya, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu, mohonlah taufiq dan tsabat kepada Rabb engkau. Adapun jika engkau telah mengurangi dan menghilangkan sebagian amalan ketaatan engkau, maka koreksilah diri engkau, bertaubatlah kepada Allah dan istiqamahlah di atasnya, kembalilah kepada amalan-amalan kebajikan yang dulu engkau menyepelekannya, beristiqamahlah untuk menjalankan perintah-perintah Allah, jauhilah larangan-larangan-Nya dengan bersumber dari niatan yang jujur, keikhlasan kepada Allah, dan dengan mengharap keutamaan yang ada di sisi Allah, serta sikap yang jujur.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 119)


Maka kejujuran itu adalah suatu keharusan.


فَلَوْ صَدَقُوا اللهَ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ.

“Jikalau mereka jujur (imannya) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)


Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman di akhir surat Al-Ma’idah:


هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ.

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur kejujuran mereka, bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Al-Ma’idah: 119)


Inilah keadaan orang-orang yang jujur, orang-orang yang jujur kepada Allah dalam menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh-Nya, jujur dalam kesungguhannya untuk berbuat kebajikan dan bersegeranya dalam mengerjakan kebajikan tersebut, jujur dalam beramar ma’ruf nahi munkar, saling menasehati dalam kebenaran dan menjalankan nasihat Lillah (dengan cara menunaikan hak-hak Allah ‘azza wajalla, pent) dan menjalankan nasihat bagi hamba-hamba Allah (dengan cara menunjukkan kepada mereka jalan-jalan kebaikan, pent).

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh untuk berjihad melawan hawa nafsunya, dia akan mendapatkan kesudahan yang baik, akhir yang terpuji, serta keberuntungan di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang telah menyia-nyiakan dan tidak mempedulikannya, maka dia akan menyesal di kemudian hari.

Maka wajib bagi engkau untuk selalu mengingat dan mengkoreksi diri setiap malam dan siang: Apa saja yang telah engkau perbuat!? Apa saja kekurangan engkau!? Sehingga engkau mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibanmu.


Berhati-hatilah dari teman bergaul yang jelek yang bisa menjauhkan engkau dari kebaikan dan membantu engkau untuk berbuat kejelekan. Wajib bagi engkau untuk bergaul dengan orang-orang baik yang jika engkau ingat, mereka akan membantumu, dan jika engkau lupa mereka akan mengingatkanmu dengan kebaikan dan bersungguh-sungguh di dalamnya bersamamu, mereka akan menabahkan hati engkau, membantu, dan memberi semangat kepada engkau untuk selalu berbuat baik.


Wajib bagi engkau untuk berteman dengan orang-orang yang baik, karena seseorang itu dinilai dari agama teman duduknya dan teman karibnya, maka bersemangatlah untuk berteman dengan orang-orang baik yang akan membantu engkau dalam kebaikan dan mengingatkan engkau jika lupa, serta akan memberikan semangat jika engkau malas.

Wajib bagi engkau untuk berteman dengan orang-orang baik, berhati-hatilah dari bergaul dengan orang-orang jelek yang akan menjauhkan engkau dari kebaikan dan menyeret engkau kepada kejelekan. Berhati-hatilah dari berteman dengan mereka.

Seorang mukmin itu sesuai dengan keadaannya, jika dia memberikan nasehat lillah (untuk menunaikan hak-hak Allah) dan li’ibadihi (menunjukkan jalan-jalan kebaikan kepada hamba-hamba Allah), serta berteman dengan orang-orang yang baik, maka dia akan bahagia dengan kebahagiaan yang sangat, dan jika dia menyepelekannya dan bahkan membuang itu semua, maka dia menyesal dengan penyesalan yang sangat. Dan engkau -wahai hamba Allah-, berakhlaklah dengan akhlak mukminin dan senantiasalah engkau untuk berakhlak demikian.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:


وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

“Dan adalah orang-orang yang beriman baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan sebagian mereka adalah pelindung bagi sebagian yang lain, mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan mendapatkan rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)


Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى ، قيل : يا رسول الله ! من يأبى !؟ قال : من أطاعني دخل الجنة ، ومن عصاني فقد أبى.

“Seluruh ummatku akan masuk al-jannah kecuali orang-orang yang enggan. Maka dikatakan kepada beliau: Wahai Rasulullah siapa orang-orang yang enggan itu? Beliau bersabda: Barangsiapa yang taat kepadaku, maka dia akan masuk al-jannah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh dia telah enggan.”


Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan masuk al-jannah dan sukses meraih kebahagiaan. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah enggan (untuk masuk al-jannah) dan menyebabkan kemurkaan Allah dan adzab-Nya.

Maka yang wajib adalah berhati-hati dan bersungguh-sungguh berjihad melawan hawa nafsunya. Allah ta’ala berfirman:


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Kami, maka sungguh-sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang berbuat baik.” (Al-’Ankabut: 69).


Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ.

“Dan benar-benar Kami akan menguji kalian sampai Kami tahu siapa yang benar-benar berjihad dan sabar di antara kalian dan akan Kami kabarkan keadaan kalian.” (Muhammad: 31).


Maka sudah seharusnya seseorang itu untuk selalu bersungguh-sungguh dan bersabar. Allah ta’ala berfirman:


وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ.

“Barangsiapa bersungguh-sungguh maka sesungguhya dia telah bersungguh-sungguh untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sesuatupun dari alam semesta ini.” (Al-’Ankabut: 6).


Bersungguh-sungguhlah untuk berjihad melawan hawa nafsu engkau sendiri, semoga engkau mendapatkan keberuntungan. Posisi engkau dalam keadaan terancam bahaya karena dunia ini adalah negeri (tempat) yang membahayakan, negeri penuh dengan tipuan dan fitnah.


وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ.

“Dan tidaklah dunia itu kecuali hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ.

“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah ujian bagimu.” (At-Taghabun: 15).


Sesungguhnya engkau berada di negeri (tempat) yang menipu, penuh dengan fitnah (ujian), syahwat, negeri yang mengajak manusia untuk mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ‘azza wajalla, maka wajib bagi engkau untuk berhati-hati selama engkau masih hidup di dunia ini, bersungguh-sungguhlah untuk berjihad melawan hawa nafsu engkau, bersabarlah dalam menjalankan ketaatan kepada Rabb engkau, jauhilah segala bentuk maksiat kepada-Nya, tetaplah bersama dengan orang-orang yang baik dan jauhilah teman bergaul yang jelek. Inilah jalan menuju kebahagiaan, jalan menuju keberhasilan, jalan menuju kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


من يرد الله به خيرًا يفقهه في الدين.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan bagi seseorang, maka Allah akan memberikan kepahaman dalam agama kepadanya.”


Maka wajib bagi engkau untuk mempelajari ilmu syar’i serta berupaya untuk memahami dan berilmu tentang agama ini.

Muhadharah Asy-Syaikh dengan judul “Asbabu Ats-Tsabat Amamal Fitan”

Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu ‘Umair Al-Atsary dari: http://sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=857
Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=461#more-461

SEHAT ALA RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam

Islam merupakan agama yang sempurna. Kesempurnaannya meliputi urusan dunia dan akhirat, yang abstrak maupun kongkrit, termasuk juga masalah jasmani dan rohani. Kesempuraan Islam itu telah diproklamirkan langsung oleh Allah subhanahu wata’ala Sang penguasa alam raya ini melalui utusan-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" (Qs. al-Maidah: 3)

Islam tidak mengharapkan umatnya lemah, apalagi sakit-sakitan. Oleh karena itu, pola hidup sehat dan membimbing umat untuk hidup sehat agar menjadi umat yang kuat diajarkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Mukmin yang kuat itu lebih baik, dan lebih dicintai oleh Allah dibanding mukmin yang lemah". (HR. Imam Ahmad).

Banyak ayat al-Quran yang membicara-kan tentang pentingnya kesehatan dan harus mengutamakan kesehatan. Begitu pula hadits-hadits Rasulullah yang mulia, banyak menjelaskan tentang pentingnya kesehatan dalam kehidupan seorang mukmin.

Di antara ayat al-Quran yang menjelaskan pentingnya mengutamakan kesehatan adalah firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, "…Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air besar (kakus) atau menyentuh perempuan, lantas kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih (suci)".(QS. al-Maidah: 6). Di antara masalah yang dijelaskan dalam ayat ini adalah hukum orang sakit yang tidak boleh tersentuh air. Karena bisa jadi air akan membahayakan jiwanya atau akan menghambat proses penyembuhan penyakitnya, atau bahkan memperparah sakit yang sedang ia derita.

Dalam keadaan seperti tersebut di atas, Allah subhanahu wata’ala memberikan solusi untuk hamba-Nya yang akan menunaikan kewajibannya, tanpa harus meninggalkannya. Yaitu dengan disyari'atkannya tayammum bagi orang-o-rang yang sedang mengalami kasus seperti di atas. Karena Islam melarang hal-hal yang bisa mendatangkan bahaya bagi diri sendiri, apalagi bagi orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidak diperkenankan membahayakan pribadi dan orang lain". (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh syaikh al-Albani)

Dalam ayat lain, artinya, "…Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain". (QS. al-Baqarah : 184)

Ayat ini menjelaskan tentang beberapa permasalahan seputar puasa. Di dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala membolehkan bagi orang yang sakit dan dalam perjalanan untuk tidak berpuasa, dan memberikan kelonggaran baginya dengan mengganti puasa yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.

Maha suci Allah yang telah mensyari'atkan agama Islam ini dengan penuh hikmah, bijaksana, dan sangat sempurna. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu orang sakit diharamkan baginya untuk berpuasa. Hal ini menunjukkan betapa Islam sangat memper-hatikan dan mengutamakan kesehatan. Sebagai contoh: Seseorang yang sedang menderita penyakit tertentu, kemudian seorang dokter ahli yang menanganinya mengatakan, “Jika ia (pasien) berpuasa dalam kondisi saat ini, maka penyakitnya akan tambah parah, bahkan dapat menyebabkan kematian”. Maka dengan perkataan dokter ahli itu, orang yang sakit tadi dilarang berpuasa (haram).

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kesehatan adalah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim dan Ibnu Hibban, "Tidak ada bejana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia melainkan perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengonsumsi beberapa kerat makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa, maka ia bisa mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiga lagi dengan minuman, dan sepertiga sisanya untuk nafas". Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan petunjuk kepada kita agar jangan over dosis makanan, sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan, dan akan menyebabkan seseorang mudah terkena penyakit.. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "…Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS. al-A'raf : 31)

Para ulama dan para sejarawan yang meneliti sejarah kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendapati pola hidup sehat yang sangat ideal bagi kehidupan manusia dalam mengisi aktivitas kehidupannya sehari-hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengonsumsi yang haram dan yang kotor. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengonsumsi yang halal dan thayyib (yang halal dan yang baik). Bahkan kalau kita mau meneliti hadits-hadits yang membicarakan tentang perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kita akan mendapati, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang sangat peduli dalam menjaga kesehatan tubuh.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu..." (QS. al-Ahzab: 21).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di berkata di dalam tafsirnya, "Suri teladan itu ada dua macam; yang pertama suri teladan yang baik, yang ke dua suri teladan yang buruk. Suri tauladan yang baik itu ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Barangsiapa yang meneladaninya, maka ia akan memperoleh kemuliaan dari Allah. Ia akan berjalan di atas jalan yang lurus dan benar. Karena para Rasul itu berjalan di atas jalan yang lurus dan benar. Adapun mengikuti jalan yang menyelisihi jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ini adalah contoh meneladani suri teladan yang buruk. Hal semacam ini pernah dilakukan oleh orang-orang kafir ketika diajak oleh para rasul untuk mengikuti jalan mereka. Orang-orang kafir itu berkata,"Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka" (QS. az-Zukhruf : 22).

Cukuplah bagi kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dengan meniru dan meneladani Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mudah-mudahan hal itu menjadi bukti atas cinta kita kepada beliau, sekaligus kesetiaan kita dalam mencintai Allah dan rasulNya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "…Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Ali 'Imron: 31) Karena hanya dengan meneladani beliaulah kebahagiaan yang hakiki dapat diraih.

Sungguh seandainya sesuatu yang kita tiru dan ikuti itu menyelisihi tuntunan Rasullulah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kita tetap bersikukuh untuk mengikutinya, berarti kita telah melakukan perbuatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir dahulu. Orang-orang kafir itu bersikukuh mengikuti jalan nenek moyang mereka yang jelas-jelas menyelisihi jalan para Rasul. Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.

Kenyataan yang ada di masyarakat sungguh sangat disayangkan. Kebanyakan dari kita telah salah dalam melangkah. Terjebak dalam mengikuti jejak. Tertipu dalam meniru, dan masa bodoh dalam mengambil contoh. Karena kurangnya kita dalam menggali dan mengamalkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita banyak meninggalkan Kalamullah, mengesampingkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kurang mau tahu terhadap perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita lalai dengan gemerlap kehidupan dunia. Akibatnya umat Islam menjadi umat yang lemah, menjadi umat tertinggal, umat yang tertindas, umat yang mudah diombang-ambingkan oleh orang-orang yang selalu membenci Islam dan umat Islam.

Melalui selembar kertas ini, penulis mengajak kaum muslimin untuk kembali mempelajari ajaran Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diamalkan. Mempelajari sejarah hidupnya untuk dijadikan patokan dalam mengarungi kehidupan didunia ini. Agar kita tidak menyimpang dari jalan yang benar dan menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan sejati dalam mengisi berbagai sisi kehidupan. Seperti: Cara makan dan menjaga kesehatan; Cara berpakaian; Cara berumah tangga dan bertetangga; Cara bermasyarakat dan bernegara dan lain sebagainya. Mari kita berusaha untuk sehat dan bahagia dengan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini tidak lain, kecuali karena memang pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagi orang yang beriman dan mengharap rahmat dari Allah subhanahu wata’ala.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan membuktikannya dengan banyak meniru dan mencontoh dari kehidupannya, meninggalkan dan membenci hal-hal yang menyelisihi jalan dan petunjuk-nya. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, shahabat, dan para pengikutnya. Alhamdulillahirabbil 'alamiin. (Ibnu Thayyib Maksudi al-Bantani).

Sumber: (Taisir al-Kariim ar-Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, at-Tibbun Nabawi, Ibnul Qoyyim al-Jauzi, Tafsir al-Quran al-Karim surat al-Baqoroh, Syaikh al-Utsaimin).

Mengapa Hati Membatu?

Mengapa Hati Membatu?

August 8th, 2009 Author: Abu Mushlih

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Bada’i al-Fawa’id [3/743], “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar terlindung dari hati yang tidak khusyu’, sebagaimana terdapat dalam hadits, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim [2722]).

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu? Apakah keselamatan itu?”. Maka Nabi menjawab, “Tahanlah lisanmu, hendaknya rumah terasa luas untukmu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi [2406], dia mengatakan; hadits hasan. Hadits ini disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib [2741]).

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah mengatakan [al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/256], “Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.”

Di antara sebab kerasnya hati adalah :

* Berlebihan dalam berbicara
* Melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban
* Terlalu banyak tertawa
* Terlalu banyak makan
* Banyak berbuat dosa
* Berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya

Agar hati yang keras menjadi lembut
Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam al-Wabil as-Shayyib [hal.99] bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id! Aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka Beliau menjawab, “Lembutkanlah hatimu dengan berdzikir.”

Sebab-sebab agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah antara lain :

* Mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya
* Membaca al-Qur’an dan merenungi kandungan maknanya
* Banyak berdzikir kepada Allah
* Memperbanyak ketaatan
* Mengingat kematian, menyaksikan orang yang sedang di ambang kematian atau melihat jenazah orang
* Mengkonsumsi makanan yang halal
* Menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat
* Sering mendengarkan nasehat
* Mengingat kengerian hari kiamat, sedikitnya bekal kita dan merasa takut kepada Allah
* Meneteskan air mata ketika berziarah kubur
* Mengambil pelajaran dari kejadian di dunia seperti melihat api lalu teringat akan neraka
* Berdoa
* Memaksa diri agar bisa menangis di kala sendiri

[diringkas dari al-Buka' min Khas-yatillah, hal. 18-33 karya Ihsan bin Muhammad al-'Utaibi]

Tidak mengamalkan ilmu, sebab hati menjadi keras
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya.” (QS. Al-Maa’idah : 13).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 225)

www.abumushlih.com

Monday, March 29, 2010

Etika Bercanda Dalam Islam

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bercanda ketika memanggil shahabatnya :"Hai yang mempunyai dua telinga " (HR. Tirmidzi dalam Syamail 225 dan Sunan-nya 1992, 3828; Abu Dawud no. 5002; dan Ahmad 3/117, 127. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4182).

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam juga pernah berkata kepada seorang perempuan tua : "Tidak ada perempuan tua yang masuk surga". Kemudian beliau shallallaahu 'alaihi wasallam membaca ayat : "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan " (Al-Waaqi'ah : 35-36) (HR. Tirmidzi dalam Syamail 240 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ghayatul-Maram 375).

Dari Anas radliyallaahu 'anhu diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, bawalah aku jalan-jalan". Beliau berkata : "Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta". Laki-laki itu pun menukas : "Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?". Beliau berkata : "Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?" (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Adab - 92 bab Riwayat tentang Bersendau-Gurau hadits no. 3998 (V : 270) dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III : 943 no. 4180. Dikeluarkan juga oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Birr - 57 bab Riwayat tentang Bersendau-Gurau hadits no. 1992 (VI : 207)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu diriwayatkan bahwa ia berkata : "Orang-orang bertanya : 'Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?'. Beliau menjawab : 'Ya, tapi aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta) " (HR. Tirmidzi dalam kitab Al-Birr wash-Shilah - 57 bab Riwayat tentang Sendau-Gurau 1991; dan beliau berkata : "Hadits ini hasan shahih".

Dari beberapa riwayat tentang kelakar/bercandanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam terkumpul padanya 3 (tiga) perkara :
1. Tidak berdusta / tidak mengada-ada.2. Dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan kalangan pria yang lemah yang butuh bimbingan.3. Jarang dilakukan (kadang-kadang).

Tiga perkara di atas hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin - baik bagi orang awam, para da'i, dan para pemimpin - dalam bermuamalah terhadap sesama. Tidak halal hukumnya sengaja melucu dengan hal-hal kedustaan agar manusia tertawa karenanya. Merupakan musibah di masyarakat ketika profesi pelawak menjadi sangat laris di masyarakat. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah ta'ala dan meninggalkannya, sebab rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengancam mereka (yang melucu dengan dusta agar orang-orang tertawa) dengan sabdanya : "Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya " (HR. Abu Dawud dalam kitab Al-'Adab - 88, bab Ancaman Keras terhadap Dusta; hadits no. 3990 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III : 942 no. 4175).

Dengan demikian, berlebihan dalam kelakar dan terus-terusan dengannya adalah terlarang, karena hal itu akan menjatuhkan kehormatan dan menumbuhkan dendam serta kemarahan. Adapun kalau sedikit, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka hal itu mengandung kebaikan jiwa. Dan terakhir, tersisa nasihat emas dari Imam Dzahabi rahimahullah bagi kita semua, dengan perkataannya : "...hendaknya mereka membatasi diri dan hendaknya mereka mencela diri sendiri sehingga jiwanya tidak goyah.

Sementara bagi mereka yang berwajah kusam masam, hendaknya mereka tersenyum dan memperelokkan akhlaqnya, serta harus marah kepada diri sendiri karena kejelekan akhlaqnya. Setiap penyimpangan yang keluar dari rel penyimpangan adalah tercela. Sehingga jiwa itu perlu dididik dan dibenahi" (Siyaaru A'lamin-Nubalaa' X/140, 141).

Wallahu a'lam
Taken FRoM Seputar Muslimah